PENGERTIAN ETIKA
Apa itu Etika Komputer ..???
Etika komputer adalah
sebagai analisis mengenai sifat dan dampak sosial teknologi komputer,
serta formulasi dan justifikasi kebijakan untuk menggunakan teknologi
tersebut secara etis. Etika komputer juga bisa di definisikan sebuah
frase yang sering digunakan namun sulit untuk didefinisikan. Untuk
menanamkan kebiasaan komputer yang sesuai, etika harus dijadikan
kebijakan organsasi etis. Sejumlah organisasi mengalamatkan isu mengenai
etika komputer dan telah menghasilkan guideline etika komputer, kode
etik.
Adapun Prinsip-Prinsip Etika Komputer Tersebut Meliputi :
PRINSIP-PRINSIP ETIKA PROFESI :
1. Tanggung jawab
- Terhadap pelaksanaan pekerjaan itu dan terhadap hasilnya.
- Terhadap dampak dari profesi itu untuk kehidupan orang lain atau masyarakat
pada umumnya.
2. Keadilan. Prinsip ini menuntut kita untuk memberikan kepada siapa saja apa
yang menjadi haknya.
3. Otonomi. Prinsip ini menuntut agar setiap kaum profesional memiliki dan di beri
kebebasan dalam menjalankan profesinya.
dari prinsip- prinsip di atas dibuatlah UU untuk Kode Etik
MENURUT UU NO. 8 (POKOK-POKOK KEPEGAWAIAN)
Kode etik profesi adalah pedoman sikap, tingkah laku dan perbuatan dalam
melaksanakan tugas dan dalam kehidupan sehari-hari.
Kode Etik Profesi merupakan bagian dari etika profesi. Kode etik profesi merupakan
lanjutan dari norma-norma yang lebih umum yang telah dibahas dan dirumuskan
dalam etika profesi. Kode etik ini lebih memperjelas, mempertegas dan merinci
norma-norma ke bentuk yang lebih sempurna walaupun sebenarnya norma-norma
tersebut sudah tersirat dalam etika profesi. Dengan demikian kode etik profesi adalah
sistem norma atau aturan yang ditulis secara jelas dan tegas serta terperinci tentang
apa yang baik dan tidak baik, apa yang benar dan apa yang salah dan
perbuatan apa yang dilakukan dan tidak boleh dilakukan oleh seorang
profesional
TUJUAN KODE ETIK PROFESI :
1. Untuk menjunjung tinggi martabat profesi.
2. Untuk menjaga dan memelihara kesejahteraan para anggota.
3. Untuk meningkatkan pengabdian para anggota profesi.
4. Untuk meningkatkan mutu profesi.
5. Untuk meningkatkan mutu organisasi profesi.
6. Meningkatkan layanan di atas keuntungan pribadi.
7. Mempunyai organisasi profesional yang kuat dan terjalin erat.
8. Menentukan baku standarnya sendiri.
Adapun fungsi dari kode etik profesi adalah :
1. Memberikan pedoman bagi setiap anggota profesi tentang prinsip profesionalitas
yang digariskan.
2. Sebagai sarana kontrol sosial bagi masyarakat atas profesi yang bersangkutan.
3. Mencegah campur tangan pihak di luar organisasi profesi tentang
hubungan etika dalam keanggotaan profesi. Etika profesi sangatlah
dibutuhkan dlam berbagai bidang. Kode etik yang ada dalam masyarakat
Indonesia cukup banyak dan bervariasi. Umumnya pemilik kode etik adalah
organisasi kemasyarakatan yang bersifat nasional, misalnya Ikatan
Penerbit Indonesia (IKAPI), kode etik Ikatan Penasehat
HUKUM
Indonesia, Kode Etik Jurnalistik Indonesia, Kode Etik Advokasi Indonesia
dan lain-lain. Ada sekitar tiga puluh organisasi kemasyarakatan yang
telah memiliki kode etik.
SANKSI PELANGGARAN KODE ETIK :
a. Sanksi moral
b. Sanksi dikeluarkan dari organisasi
Kasus-kasus pelanggaran kode etik akan ditindak dan dinilai oleh suatu
dewan kehormatan atau komisi yang dibentuk khusus untuk itu. Karena
tujuannya adalah mencegah terjadinya perilaku yang tidak etis,
seringkali kode etik juga berisikan ketentuan-ketentuan profesional,
seperti kewajiban melapor jika ketahuan teman sejawat melanggar kode
etik. Ketentuan itu merupakan akibat logis dari self regulation yang
terwujud dalam kode etik; seperti kode itu berasal dari niat profesi
mengatur dirinya sendiri, demikian juga diharapkan kesediaan profesi
untuk menjalankan kontrol terhadap pelanggar. Namun demikian, dalam
praktek seharihari control ini tidak berjalan dengan mulus karena rasa
solidaritas tertanam kuat dalam anggota-anggota profesi, seorang
profesional mudah merasa segan melaporkan teman sejawat yang melakukan
pelanggaran. Tetapi dengan perilaku semacam itu
solidaritas antar
kolega ditempatkan di atas kode etik profesi dan dengan demikian maka
kode etik profesi itu tidak tercapai, karena tujuan yang sebenarnya
adalah menempatkan etika profesi di atas pertimbangan-pertimbangan lain.
Lebih lanjut masing-masing pelaksana profesi harus memahami betul
tujuan kode etik profesi baru
kemudian dapat melaksanakannya.
adapun Hukum untuk kode etik tersebut yaitu :
Jangan menggunakan komputer untuk menyakiti orang lain.
[Thou shalt not use a computer to harm other people.]
Jangan mengganggu pekerjaan komputer orang lain.
[Thou shalt not interfere with other people's computer work.]
Jangan mengintip file komputer orang lain.
[Thou shalt not snoop around in other people's computer files.]
Jangan menggunakan komputer untuk mencuri.
[Thou shalt not use a computer to steal.]
Jangan menggunakan komputer untuk memberikan saksi dusta.
[Thou shalt not use a computer to bear false witness.]
Jangan menggunakan software sebelum anda membayar copyrightnya.
[Thou shalt not copy or use proprietary software for which you have not paid.]
Jangan menggunakan sumber daya komputer orang lain tanpa otorisasi atau kompensasi yang wajar.
[Thou shalt not use other people's computer resorces without authorization or proper compensation.]
Jangan membajak hasil kerja intelek orang lain.
[Thou shalt not appropriate other people's intellectual output.]
Pikirkan konsekuensi sosial dari program atau sistem yang sedang anda buat atau rancang.
[Thou shalt think about the social consequences of the program you are writing or the system you are designing.]
Thou shalt always use a computer in ways that insure consideration and respect for your fellow humans.
[Gunakan komputer dengan pertimbangan penuh tanggungjawab dan rasa
hormat kepada sesama manusia.]. Computer Ethics Institute
Washington DC 20036
Sejarah dan perkembangan Etika Komputer, yaitu :
1. Era 1940 – 1950
Munculnya etika komputer sebagai sebuah bidang studi dimulai oleh
pekerjaan Prof. Nobert Wiener dari MIT AS membantu mengembangkan suatu
meriam anti pesawat yang mampu menembak jatuh sebuah pesawat tempur yang
melintas diatasnya. Hasil Penelitiannya di bidang etika dan teknologi
disebut Cybernetics atau The Science of information feedback Systems
yang merupakan cikal bakal Teknologi informasi (TI) yang kita kenal
sekarang. Pengaruh sosial tentang arti penting teknologi tersebut
ternyata memberikan kebaikan sekaligus malapetaka
2. Era 1960
Donn Parker pada pertengahan 1960 melakukan riset untuk menguji
penggunaan komputer yang tidak sah dan tidak sesuai dengan
profesionalisme bidang komputer. Pada tahun 1968 memimpin pengembangan
kode etik profesional untuk ACM (Association Computing Machinery)
3. Era 1970
Joseph Weizenbaum ilmuan komputer MIT di Boston menciptakan program
yand disebut ELIZA dalam Eksperimennya melakukakan wawancara dengan
pasien yang akan diobatinya (Otomatisasi Psikoterapi)
4. Era 1980
Pertengahan 80-an James Moor dari Dartmounth college membuat artikel
menarik yang berjudul What is Computer Ethics?. Sedangkan Deborah
Johnson dari Rensseler Polytechinal Institute menerbitkan buku teks
pertama yang digunakan lebih dari satu dekade
5. Era 1990 sampai saat ini
RUANG LINGKUP KEJAHATAN DUNIA CYBER
Definisi dan Jenis Kejahatan Dunia Cyber
Sebagaimana lazimnya pembaharuan teknologi, internet selain memberi
manfaat juga menimbulkan ekses negatif dengan terbukanya peluang
penyalahgunaan teknologi tersebut. Hal itu terjadi pula untuk data dan
informasi yang dikerjakan secara elektronik. Dalam jaringan komputer
seperti internet, masalah kriminalitas menjadi semakin kompleks karena
ruang lingkupnya yang luas. Kriminalitas di internet atau cybercrime
pada dasarnya adalah suatu tindak pidana yang berkaitan dengan
cyberspace, baik yang menyerang fasilitas umum di dalam cyberspace
ataupun kepemilikan pribadi.
Jenis-jenis kejahatan di internet terbagi dalam berbagai versi. Salah
satu versi menyebutkan bahwa kejahatan ini terbagi dalam dua jenis,
yaitu kejahatan dengan motif intelektual. Biasanya jenis yang pertama
ini tidak menimbulkan kerugian dan dilakukan untuk kepuasan pribadi.
Jenis kedua adalah kejahatan dengan motif politik, ekonomi atau kriminal
yang berpotensi menimbulkan kerugian bahkan perang informasi. Versi
lain
membagi cybercrime menjadi tiga bagian yaitu pelanggaran
akses, pencurian data, dan penyebaran informasi untuk tujuan kejahatan.
Secara garis besar, ada beberapa tipe cybercrime, seperti dikemukakan
Philip Renata dalam suplemen BisTek Warta Ekonomi No. 24 edisi Juli
2000, h.52 yaitu:
a. Joy computing, yaitu pemakaian komputer orang lain tanpa izin. Hal ini termasuk
pencurian waktu operasi komputer.
b. Hacking, yaitu mengakses secara tidak sah atau tanpa izin dengan alat suatu terminal.
c. The Trojan Horse, yaitu manipulasi data atau program dengan jalan mengubah data
atau instruksi pada sebuah program, menghapus, menambah, menjadikan tidak
terjangkau dengan tujuan untuk kepentingan pribadi pribadi atau orang lain.
d. Data Leakage, yaitu menyangkut bocornya data ke luar terutama mengenai data yang
harus dirahasiakan. Pembocoran data komputer itu bisa berupa berupa rahasia negara,
perusahaan, data yang dipercayakan kepada seseorang dan data dalam situasi tertentu.
e. Data Diddling, yaitu suatu perbuatan yang mengubah data valid atau sah dengan cara
tidak sah, mengubah input data atau output data.
f. To frustate data communication atau penyia-nyiaan data komputer.
g. Software piracy yaitu pembajakan perangkat lunak terhadap hak cipta yang dilindungi HAKI.
Dari ketujuh tipe cybercrime tersebut, nampak bahwa inti cybercrime
adalah penyerangan di content, computer system dan communication system
milik orang lain atau umum di dalam cyberspace (Edmon Makarim, 2001:
12). Pola umum yang digunakan untuk menyerang jaringan komputer adalah
memperoleh akses terhadap account user dan kemudian menggunakan sistem
milik korban sebagai platform untuk menyerang situs lain. Hal ini dapat
diselesaikan dalam waktu 45 detik dan
mengotomatisasi akan sangat mengurangi waktu yang diperlukan (Purbo, dan Wijahirto,2000: 9).
Fenomena cybercrime memang harus diwaspadai karena kejahatan ini agak berbeda
dengan kejahatan lain pada umumnya. Cybercrime dapat dilakukan tanpa mengenal batas
teritorial dan tidak diperlukan interaksi langsung antara pelaku dengan korban kejahatan.
Bisa dipastikan dengan sifat global internet, semua negara yang melakukan kegiatan
internet hampir pasti akan terkena imbas perkembangan cybercrime ini.
Berita Kompas Cyber Media (19/3/2002) menulis bahwa berdasarkan survei AC Nielsen
2001 Indonesia ternyata menempati posisi ke enam terbesar di dunia atau ke empat di
Asia dalam tindak kejahatan di internet. Meski tidak disebutkan secara rinci kejahatan
macam apa saja yang terjadi di Indonesia maupun WNI yang terlibat dalam kejahatan
tersebut, hal ini merupakan peringatan bagi semua pihak untuk mewaspadai kejahatan
yang telah, sedang, dan akan muncul dari pengguna teknologi informasi (Heru Sutadi,
Kompas, 12 April 2002, 30).
Menurut RM. Roy Suryo dalam Warta Ekonomi No. 9, 5 Maret 2001 h.12, kasus-kasus
cybercrime yang banyak terjadi di Indonesia setidaknya ada tiga jenis berdasarkan
modusnya, yaitu:
1. Pencurian Nomor Kartu Kredit.
Menurut Rommy Alkatiry (Wakil Kabid Informatika KADIN), penyalahgunaan kartu
kredit milik orang lain di internet merupakan kasus cybercrime terbesar yang
berkaitan dengan dunia bisnis internet di Indonesia.
Penyalahgunaan kartu kredit milik orang lain memang tidak rumit dan bisa dilakukan
secara fisik atau on-line. Nama dan kartu kredit orang lain yang diperoleh di
berbagai tempat (restaurant, hotel atau segala tempat yang melakukan transaksi
pembayaran dengan kartu kredit) dimasukkan di aplikasi pembelian barang di
internet.
2. Memasuki, memodifikasi atau merusak homepage (hacking)
Menurut John. S. Tumiwa pada umumnya tindakan hacker Indonesia belum separah
aksi di luar negeri. Perilaku hacker Indonesia baru sebatas masuk ke suatu situs
komputer orang lain yang ternyata rentan penyusupan dan memberitahukan kepada
pemiliknya untuk berhati-hati. Di luar negeri hacker sudah memasuki sistem
perbankan dan merusak data base bank.
3. Penyerangan situs atau e-mail melalui virus atau spamming.
Modus yang paling sering terjadi adalah mengirim virus melalui e-mail. Menurut
RM. Roy Suryo, di luar negeri kejahatan seperti ini sudah diberi hukuman yang
cukup berat. Berbeda dengan di Indonesia yang sulit diatasi karena peraturan yang
ada belum menjangkaunya.
Sementara itu As’ad Yusuf memerinci kasus-kasus cybercrime yang sering terjadi di
Indonesia menjadi lima, yaitu:
a. Pencurian nomor kartu kredit.
b. Pengambilalihan situs web milik orang lain.
c. Pencurian akses internet yang sering dialami oleh ISP.
d. Kejahatan nama domain.
e. Persaingan bisnis dengan menimbulkan gangguan bagi situs saingannya.
Khusus cybercrime dalam e-commerce, oleh Edmon Makarim didefinisikan sebagai
segala tindakan yang menghambat dan mengatasnamakan orang lain dalam perdagangan
melalui internet. Edmon Makarim memperkirakan bahwa modus baru seperti jual-beli
data konsumen dan penyajian informasi yang tidak benar dalam situs bisnis mulai sering
terjadi dalam e-commerce ini.
Menurut Mas Wigrantoro dalam BisTek No. 10, 24 Juli 2000, h. 52 secara
garis besar ada lima topic dari cyberlaw di setiap negara yaitu:
a. Information security, menyangkut masalah keotentikan pengirim atau penerima dan
integritas dari pesan yang mengalir melalui internet. Dalam hal ini diatur masalah
kerahasiaan dan keabsahan tanda tangan elektronik.
b. On-line transaction, meliputi penawaran, jual-beli, pembayaran sampai pengiriman
barang melalui internet.
c. Right in electronic information, soal hak cipta dan hak-hak yang muncul bagi
pengguna maupun penyedia content.
d. Regulation information content, sejauh mana perangkat hukum mengatur content yang
dialirkan melalui internet.
e. Regulation on-line contact, tata karma dalam berkomunikasi dan berbisnis melalui
internet termasuk perpajakan, retriksi eksport-import, kriminalitas dan yurisdiksi
hukum.
Saat ini di Indonesia sudah dibuat naskah rancangan undang-undang cyberlaw yang
dipersiapkan oleh Fakultas Hukum Universitas Indonesia bekerja sama
dengan Departemen Perdagangan dan Fakultas Hukum Universitas Padjajaran
Bandung bekerja sama dengan Departemen Pos dan telekomunikasi. Hingga
saat ini naskah RUU Cyberlaw tersebut belum disahkan sementara
kasus-kasus hukum yang berkaitan dengan kriminalitas di internet terus
bermunculan mulai dari pembajakan kartu kredit, banking fraud, akses
ilegal ke sistem informasi, perusakan web site sampai dengan pencurian
data. Kasus yang terkenal diantaranya adalah kasus klik BCA dan kasus
bobolnya situs KPU. Saat ini regulasi yang dipergunakan sebagai dasar
hukum atas kasus-kasus cybercrime adalah Undang-undang Telekomunikasi
dan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Namun demikian,
interpretasi yang dilakukan atas pasal-pasal KUHP dalam kasus cybercrime
terkadang kurang tepat untuk diterapkan. Oleh karena itu urgensi
pengesahan RUU Cyberlaw perlu diprioritaskan untuk menghadapi era
cyberspace dengan segala konsekuensi yang menyertainya termasuk maraknya
cybercrime belakangan ini.
PENDEKATAN HUKUM UNTUK
KEAMANAN DUNIA CYBER
Asas Hukum Untuk Dunia Cyber
Untuk Indonesia, regulasi hukum cyber menjadi bagian penting dalam
sistem hukum positif secara keseluruhan. Pemerintah dan Dewan Perwakilan
Rakyat perlu segera menuntaskan Rancangan Undang-undang Informasi dan
Transaksi Elektronik (RUU ITE) untuk dijadikan hukum positif, mengingat
aktivitas penggunaan dan
pelanggarannya telah demikian tinggi.
Regulasi ini merupakan hal yang sangat ditunggu-tunggu masyarakat demi
terciptanya kepastian hukum. RUU ITE sendiri dalam hal materi dan
muatannya telah dapat menjawab persoalan kepastian hukum
menyangkut tindak pidana carding, hacking dan cracking, dalam sebuah bab
tentang perbuatan yang dilarang dimuat ketentuan yang terkait dengan
penyalahgunaan teknologi informasi, yang diikuti dengan sanksi
pidananya. Demikian juga tindak pidana dalam RUU ITE ini diformulasikan
dalam bentuk delik formil, sehingga tanpa
adanya laporan kerugian
dari korban aparat sudah dapat melakukan tindakan hukum. Hal ini
berbeda dengan delik materil yang perlu terlebih dulu adanya unsur
kerugian dari korban.
RUU ITE merupakan satu upaya penting dalam setidaknya dua hal, pertama :
pengakuan transaksi elektronik dan dokumen elektronik dalam kerangka
hukum perikatan dan hukum pembuktian, sehingga kepastian hukum transaksi
elektronik dapat terjamin. Kedua: Diklasifikasikannya tindakan-tindakan
yang termasuk kualifikasi
pelanggaran hukum terkait penyalahgunaan TI disertai sanksi pidananya termasuk untuk tindakan carding, hacking dan cracking.
Untuk selanjutnya setelah RUU ITE diundangkan, pemerintah perlu pula
untuk memulai penyusunan regulasi terkait dengan tindak pidana cyber
(Cyber Crime), mengingat masih ada tindak-tindak pidana yang tidak
tercakup dalam RUU ITE tetapi dicakup dalam instrumen Hukum
Internasional di bidang tindak pidana cyber, misalnya
menyangkut
tindak pidana pornografi, deufamation, dan perjudian maya. Untuk hal
yang terakhir ini perlu untuk mengkaji lebih jauh Convention on Cyber
Crime 2000, sebagai instrumen tindak pidana cyber internasional,
sehingga regulasi yang dibuat akan sejalan dengan kaidah-kaidah
internasional, atau lebih jauh akan merupakan
implementasi
(implementing legislation) dari konvensi yang saat ini mendapat
perhatian begitu besar dari masyarakat internasional.
Sejak
Maret 2003 lalu Kantor Menteri Negara Komunikasi dan Informasi
(Menkominfo) mulai menggodok Rancangan Undang-Undang (RUU) Informasi
Elektronik dan Transaksi Elektronik (IETE) - yang semula bernama
Informasi, Komunikasi dan
Transaksi Elektronik (IKTE). RUU ITE
itu merupakan gabungan dari dua RUU, yaitu RUU tentang Pemanfaatan TI
(PTI), dan Tandatangan Elektronik dan Transaksi Elektronik (TE). RUU PTI
disusun oleh Ditjen Pos dan Telekomunikasi, Departemen
Perhubungan, bekerja sama dengan Tim dari Fakultas Hukum Universitas
Padjadjaran(Unpad) dan Tim asistensi dari ITB. Sedang RUU TE dimotori
oleh Lembaga Kajian Hukum dan Teknologi Universitas Indonesia (UI)
dengan jalur Departemen Perindustrian
dan Perdagangan. RUU
tersebut dimaksudkan menjadi payung bagi aturan-aturan yang ada di
bawahnya. Hanya saja, jika semua aspek dimasukkan, sehingga menjadi
sangat luas, bisa jadi justru
membingungkan, sehingga
pengimplementasiannya menjadi tidak optimal. Idealnya, pemerintah perlu
membuat UU untuk setiap bagian khusus seperti digital signature,
ebanking, e-Governmet, atau UU spesifik lainnya. Tetapi, itu harus mau
menunggu lebih
lama lagi karena sampai saat ini belum ada
pegangan dalam bentuk UU lain. Sementara jumlah topik yang harus dibahas
sangat banyak.
UU ITE dapat di lihat disini
Yang
menarik, RUU PTI juga mengatur perluasan masalah yurisdiksi yang
memungkinkan pengadilan Indonesia mengadili siapa saja yang melakukan
tindak pidana bidang TI yang dampaknya dirasakan di Indonesia.
Contohnya, jika cracker asing melakukan kejahatan terhadap satu bank di
Indonesia, maka berdasarkan pasal 33 dan 34 RUU PTI, pengadilan
Indonesia berwenang mengadili orang itu jika masuk ke Indonesia. Selama
ini, kejahatan yang melibatkan orang Indonesia dan asing sangat marak,
namun penyidikan kejahatan cyber tersebut selalu terganjal masalah
yurisdiksi ini.
Hal tersebut seharusnya memang diantisipasi sejak
awal, karena eksistensi TI dengan perkembangannya yang sangat pesat
telah melahirkan kecemasan-kecemasan baru seiring maraknya kejahatan di
dunia cyber yang semakin canggih. Lebih dari itu, TI yang tidak
mengenal batas-batas teritorial dan beroperasi secara maya juga menuntut
pemerintah mengantisipasi aktivitas-aktivitas baru yang harus diatur
oleh hukum yang berlaku, terutama memasuki pasar bebas AFTA yang telah
dimulai awal tahun ini.
dikutip dari :
PENDEKATAN HUKUM UNTUK KEAMANAN DUNIA CYBER SERTA URGENSl CYBER LAW BAGI INDONESIA